Smsnya..

Sebelum membaca potongan cerita yang ini, disarankan membaca cerita-cerita sebelum ini. Urutannya: CIS, Bingkisan, Huah!!. Kalau sudah, Selamat menikmati. 🙂

***

“Kemarin dinda dapat sms dari temen kakak.”

“Hm? Siapa?”

“Mas Angga, temen sekelas kakak.”

“Terus?”

“Em..” Ia terlihat ragu untuk mengatakannya.

“Angga sms apa?” Tanyaku.

“Kakak udah pernah pacaran?”

“Belum, kok tanya itu?” Walaupun aku bertanya padanya, tapi aku sudah tahu. Dulu, semenjak Dinda sudah dikenal kalau dia adikku, Angga sering menayakan kepadaku tentang dirinya. Tapi tak kusangka juga sih temenku itu sampai sejauh ini.

“Menurut kakak pacaran itu bagaimana?”

“Lha kalau menurut Dinda sendiri?”

“Ihh.. kakak ini ditanya malah dijawab tanya balik.” Ia pun mengeluarkan wajah cemberutnya yang lucu itu, menurutku sih.

“Dinda diajakin pacaran sama Angga?”

Ia mengangguk

“Terus dinda mau nggak?”

“Kalau Dinda ngga mau. Maunya sih, minimal sama orang yang seperti kakak, tapi kan ngga ada.” Jawabnya dengan wajah polos. “Lagian juga kalau pacaran itu ngapain aja sih? Berduaan? Gandengan tangan? Jalan-jalan bareng? Nonton bareng? Main bareng?” Ia diam sesaat. Lalu melanjutkan, “Tanpa pacaran pun kita juga bisa melakukan semua itu kan?” Jelasnya.

Ya, aku setuju dengan penjelasan Dinda. Apalagi kata-kata terakhirnya.

“Dinda.”

“Iya kak.”

“Ini sayurannya udah selesai, taruh dimana?”

“Taruh disana aja kak.” Katanya sambil menunjuk kearah tempat kosong samping kompor. “Kakak siapin Nasinya, biar Dinda yang masak.” Lanjutnya.

“Dik.”

“Iya.” Ia menoleh kearahku.

“Alasan Dinda nggak mau pacaran apa? Selain yang tadi lho..”

“Ngga tau kak, ngga suka aja.”

“Dinda masih inget nggak adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang dulu kakak kasih tau?”

“Masih kak.”

“Apa aja?”

“Ngga boleh bersentuhan, menjaga pandangan, ngga boleh berduaan, suara ngga boleh mendayu-dayu. Betul kan kak?”

“Iya betul. Terus sekarang kakak tanya, ada nggak pacaran yang nggak melanggar hal-hal tadi?”

“Hm..” Saat bersuara, ia pegang dagu dengan jari tangannya sambil mendongak agak keatas. “Menurut Dinda ngga ada deh kak.”

“Nah.. Terus, menurut Dinda pacaran itu boleh nggak?”

“Ya karena setiap pacaran melanggar empat hal tadi, berarti pacaran itu ngga boleh ya kak?”

Pertanyaannya hanya kujawab dengan senyum.

“Kak, terus Dinda pernah denger ada pacaran islami, itu gimana kak?”

“Pacaran Islami?”

“Iya.”

“Mungkin..”

“Mungkin?” ia memotong kataku.

“Ya kalau menurut kakak pacaran yang tidak melanggar adab-adab tadi”

“Lho, terus gimana itu kak pacarannya?” Tanyanya heran dengan jawabanku.

“Kan besok kalau kita sudah menikah, empat hal tadi sudah tidak berlaku.”

“Jadi pacaran itu bolehnya kalau udah menikah ya kak?”

Kujawab dengan anggukan.

“Oh..”

 

Dinda mulai memasak sup jamurnya. Aku yang sudah menyiapkan nasi hanya duduk melihatnya dari belakang.

Sepertinya suasana sunyi ini tidak bertahan lama karena ia kembali melontarkan pertanyaan kepadaku.

“Kakak.”

“Iya.”

“Kakak tahu ngga alasan mereka pacaran.”

“Mereka siapa?”

“Ya orang-orang diluar sana, disekolah kita juga banyak kan.”

“Nggak tahu, kakak kan bukan mereka.”

“Ihh.. kalau itu Dinda juga tahu, ya menurut kakak aja deh.”

“Kalau menurut kakak, sebagian dari mereka hanya terbawa trend”

“Maksudnya terbawa trend?”

“Yak karena banyak orang pacaran, terus mereka ikut-ikutan”

“Oh..”

“Sebagian dari mereka berpikiran bahwa kalau tidak pacaran itu tidak keren. Jadi bagaimanapun caranya mereka harus punya pacar.”

Dinda hanya mengangguk-angguk.

“Tapi ada juga sih yang beralasan agar tahu calon pendamping hidup mereka kelak.”

“Maksudnya kak?”

“Ya biar tahu bagaimana keadaan, kondisi, maupun karakter orang yang akan mereka nikahi, dengan pacaran.”

“Oo gitu.. bukannya dalam Islam sudah ada ta’aruf ya kak?”

“Maka dari itu. Padahal to dik, kalau menurut kakak, kebanyakan orang pacaran pasti memakai topeng.”

“Topeng?”

“Hehe.. Maksudnya gini, kalau orang pacaran kan ingin terlihat baik terus kan di depan pacarnya. Jadi ya saat mereka pacaran mereka bukan menjadi diri mereka sendiri.”

“Ohh..” Responnya mendengar penjelasanku.

“Terus kalau mereka menikah, mereka lalu tahu watak sebenarnya dari pasangan mereka. Banyak juga yang kecewa atau tidak sesuai harapan dan akhirnya membuat kondisi keluarga mereka tidak baik.”

“Tapi ada juga kan kak yang bisa menerima apa adanya.”

“Orang seperi itu nggak banyak.”

“Kakak.”

“Iya, ada apa?”

“Sup jamurnya sudah jadi.”

Ia lalu menuangkan sup itu ke dua mangkuk kosong yang sudah aku siapkan tadi. Setelah Dinda mengembalikan panci yang ia gunakan untuk memasak, kita membawa makan sahur ini ke meja makan. Aku megambil dua gelas kosong dan kuisi dengan air putih.

“Jangan lupa berdoa dik.” Ucapku saat kita sudah siap makan.

“Iya”

 

***

Aku selesai makan lebih dulu. Memang dari dulu Dinda makannya selalu lebih lama dariku. Kulihat ia yang sedang makan. Tenang, sabar, hati-hati, juga anggun, itu yang aku pikirkan.

Selesai makan ia menguap panjang.

“Dinda habis ini tidur ya? Kan nanti tidak sholat shubuh.”

“Iya deh..” Jawabnya. “Oh iya, kak.. bagaimana aku harus menjawab sms dari mas Angga?”

“Em..” Aku berpikir sejenak. “Sebelumnya kakak mau tanya.”

“Tanya apa kak?”

“Cara adik menulis sms masih sama seperti kakak kan?”

“Yup.” Jawabnya disertai anggukan.

“Kalau gitu nanti kakak aja yang jawab.”

“Oke deh.”

Ia tampak senang dengan jawabanku.

Setelah selesai, kita membawa alat makan yang barusaja digunakan ke dapur.

“Taruh saja dik, biar nanti kakak yang nyuci.”

“Iya kak.”

Kita pun berjalan kembali ke atas.

 

***

“Dik.”

“Iya.”

“Jadi adik nggak tidur semalaman cuma untuk mikirin itu?”

“Hehehe.. engga juga sih kak.” Jawabnya sambil cengar-cengir.

“Lha terus tadi malem ngapain aja?”

“Habis makan malem dinda sms-an sama temen-temen dinda, kan banyak yang sms tentang ultahnya dinda. Sampai kira-kira jam sembilan lebih.”

“Terus?”

“Aku udah nulis di buku yang dikasih sama mbak Nisa, hehehe. Sampai jam setengah sebelas kayaknya.”

“Habis itu?”

“Aku langsung sms mbak Nisa sampai malem, jam satu lebih kalau ngga salah. Habis itu baru kepikiran sms dari mas angga itu.”

“Adik nggak ngantuk?”

“Ngga kak. Kemarin kan dinda ngga masuk, jadi seharian bisa tidur lama.”

“Oh iya, ke dinasnya kan sore ya?”

“Iya”

Kita sudah ada di kamar dinda. Ia sudah bersiap akan tidur.

“Hpmu dimana dik?”

“Itu” Jawabnya sambil menunjuk ke arah meja belajarnya.”buku dari mbak Nisa juga ada di situ. Baca aja kalau kakak mau.”

“Oh.. Oke. Sekarang Dinda tidur ya..”
“He’em..” Ia lalu memejamkan matanya. Jam empat lebih..

 

Bersambung..

 

 

Selanjutnya:

Apa isi sms antara Dinda dengan Nisa?

Apakah yang dinda tulis di buku diary pemberian Nisa?

Dua hal tadi tampaknya membuat Ari penasaran.

 

Dan juga, sms apa yang akan dikirim oleh Ari kepada Angga?

Dinda penasaran tentang ini nih..

Iklan

16 thoughts on “Smsnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s