Huah!!

Huah!! Aku ketiduran!! Jam berapa sekarang? Kulihat jam dinding yang ada di belakangku. Jam tiga kurang sepuluh menit. Masih ada waktu untuk sholat malam  lalu makan sahur. Aku berdiri hendak pergi ke kamar mandi.

Tunggu dulu, siapa yang menyelimutiku? Dan siapa yang mematikan laptopku juga lampu kamarku? Aku menjadi penasaran. Ah, mungkin simbok. Biasanyanya beliau memang begitu. Tapi… apa simbok bisa mematikan laptop? Aku berpikir sejenak. Jangan-jangan adikku.

Aku keluar dari kamar, berjalan ke kamar mandi melewati kamar adikku. Lampunya menyala, apa adik sudah bangun? Kulewati kamarnya begitu saja. Setelah sampai di kamar mandi, ku basuh wajahku. Aku buang air kecil, lalu berwudhu. Dan kembali lagi ke kamar.

“Kakak sudah bangun?” suara adikku dari dalam, saat aku melewati depan kamarnya.

“Sudah, adik sendiri juga. Bangun jam berapa dik?” Sejak masuk SMA, adik jadi lebih sering bangun malam. Kira-kira ya jam segini. Saat aku lewat depan kamarnya, biasanya dia sedang sholat malam ataupun membaca al-Qur’an. Tapi saat ada ‘tamu’, dia hanya membaca buku.

“Dinda tidak bisa tidur kak.” Katanya lirih, sambil membuka pintu kamarnya. Berdiri tepat di ambang pintu.

“Kenapa?”

“Selalu kepikiran sesuatu kak, Dinda ingin membicarakannya dengan Kakak.”

Aku diam sejenak. Ku amati wajahnya yang belum tidur. Aku dapat menangkap rasa bingung yang terlihat jelas dari situ.

“Setelah kakak sholat bagaimana?”

“iya kak, kakak sholat dulu saja. Dinda tunggu disini, dinda sedang tidak sholat”

“Baiklah, tunggu sebentar ya dik”

“iya kak.”

Aku kembali berjalan menuju kamarku. Setelah sholat malam serta witir, aku berdoa. Tak lupa ku masukkan adikku ke dalam doaku. Aku berharap dia baik-baik saja.

Selesai sholat aku langsung ke kamar adikku. Pintu kamar dibiarkannya terbuka sejak tadi. Mendengar suara langkahku, dia bergegas keluar dari kamarnya.

“Kakak hari ini mau puasa?” tanyanya diiringi dengan senyum.

Kubalas dengan senyum. Aku sendiri heran. Ada yang berubah dari wajahnya. Ia tak lagi menunjukkan kebingungan dari wajahnya.

“Dinda temenin masak dan makan sahur mau?” Dia mendekat ke arahku. Kedua tangannya menempel pada pundakku. Wajah cerianya sangat dekat ke mukaku.

Aku mengangguk. Lalu tanganku dipegangnya. Ia menarikku, turun melewati tangga ke dapur. Keherananku belum hilang. Dia melepasku saat mencapai pintu dapur. Membuka kulkas dan lemari makanan, mencari bahan-bahan seadanya untuk dimasak.

“Kakak mau sup jamur?” Ia bertanya setelah melihat jam. “Waktunya cukup untuk memasaknya. Kakak mau tidak?” Ia menoleh ke arahku.

“Ayuk..” jawabku. Aku menghampirinya.

“Kakak cuci Jamur dan sayuran yang di meja itu ya, terus nanti dipotong-potong. Aku mau menyiapkan bumbunya.”

“oh, iya…”

Aku ambil sayuran dari meja, mencucinya. Ku ambil pisau dan memotong bahan-bahan tadi. Suasana jadi lebih sepi. Hanya ada suara detakan jarum jam, pisauku yang memotong-motong sayur, dan adik yang mengumpulkan bumbu-bumbu.

Aku teringat, selain ingin kutanyakan apa yang mengganjal di dirinya, ada hal lain yang juga ingin kutanyakan kepadanya.

“Tadi malam adik yang mematikan laptop kakak ya?”

“Iya.” Jawabnya tanpa menoleh, masih sibuk dengan bumbu-bumbunya. “Adik juga sudah menyimpan filenya kok.” Lanjutnya.

“Berarti adik juga yang mematikan lampu, dan menyelimuti kakak?”

Dia menoleh ke arahku, dan tersenyum.

“Terimakasih ya dik.”

“Lain kali jangan di ulangi ya kakakku yang suka tidur!” Jawabnya lagi, tanpa melihat ke arahku.

Ku acak-acak rambutnya dari belakang. “Dasar adik kakak yang satu ini.” Gemas aku dibuatnya.

“Aaa.. kakak! Bumbunya jadi ke campur-campur ini.”

“Hihihi…” Tawaku pelan, lalu ku iringi dengan senyum nakal.

Kembali aku lanjutkan mengiris-iris sayur, dan ia memulai pembicaraan lagi.

“Sebenarnya adik ingin membicarakan ini dengan kakak tadi malam..” Ia berhenti sejenak. Tanganku berhenti. Aku lihat dirinya yang masih sibuk dengan bumbu-bumbunya. Nada bicaranya sepertinya sudah mulai serius. “Tapi kakak malah sudah tidur, di kursi lagi! Laptop sama lampu juga belum di matiin.” Ia melanjutkan. Nada suaranya berubah, tidak seserius tadi.

bersambung lagi

***

Kepada para pembaca weblog ini:

Pertama, aku minta maaf kalau ceritanya jelek. Masih belajar sih soalnya. Hehehe.. XP

Terus yang kedua, masalah nama-nama yang ada di cerita ini (maupun cerita sebelumnya) itu ya hanya tokoh yang ada di dalam cerita. Walaupun inspirasinya dari dunia nyata. Nama Ari aku ambil dari sebagian nama belakangku. Kalau Dinda, kupikir itu nama yang ‘ngena’ untuk seorang adik :P. Terus satu lagi, Nisa sendiri sebenarnya nama adikku yang paling kecil 😄 (walau nama panggilannya bukan Nisa)

Yang terakhir, em… (bingung). Ya pokoknya itu dulu deh. Kalo ada yang lain mungkin nanati aku tambahkan di lanjutan ceritanya 😀

Eh, sekarang inget buat yang terakhir. Aku bikin catatan ini soalnya kemarin ada temenku yang tanya, adikku namanya bener-bener Dinda atau bukan. Kan padahal itu cuma buatan khusus untuk cerita ini. Takutnya malah dikira aku ada apa-apa sama orang yang punya nama Nisa. Hahaha…

Maaf ya buat orang yang punya nama Nisa :P. Inspirasi sosok Nisa (yang akan diceritakan selanjutnya) malah bukan dari orang yang bernama Nisa, tetapi Nisa (maksudnya bener-bener dari seorang perempuan :D). Mungkin gabungan karakternya beberapa temenku, hehehe…

Iklan

2 thoughts on “Huah!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s