Bingkisan

“Tadi kamu dicariin lho, sama seseorang. Penting katanya. Tapi aku nggak tau siapa.. Yang bilang orang banyak.”

Pesan ini membuatku penasaran, siapa yang nyariin? Sepertinya akhir-akhir ini aku ngga ada janji ketemuan sama siapa-siapa.

“Yang bilang penting kira-kira siapa tau nggak? Emang dengernya dimana?” Send!

Langsung kubalas sms dari sahabatku itu. Lalu kembali aku lanjutkan tanganku untuk mengetik tugas Sejarah yang dari tadi kemarin belum selesai.

Incoming Message: “Nggak tau juga, tadi siang waktu pulang sekolah di kelas nomor dua dari ujung. Menurutku ya anak kelas itu.”

“Tadi ada yang dateng ke kelas kita nyariin aku nggak?” Send!

Incoming Message: “Tadi habis kamu izin, kira-kira pelajaran habis Pak Budi keluar, aku liat ada segerombolan anak kelas itu lewat depan kelas. Tau kan siapa aja yang aku maksud? Habis lewat kelas kayak kecewa gitu. Menurutku mereka nyariin kamu.”

“Wah, kalo yang itu aku nggak tanya.. Emang sering mereka lewat depan kelas cuma pengen liat-liat doang.. nggak ada yang lain?” Send!

Incoming Message: “Adanya cuma si Rangga yang tadi titip bingkisan ke kamu itu..”

Langsung kulirik bingkisan coklat yang sekarang berdiri tegap di salah satu sudut lemariku. hampir saja aku lupa. Sejak tadi siang emang belum aku pegang, ditaruh kesitu sama simbok. Katanya dari temen yang dapet titipan dari temennya. Setelah menge’save’ tugas sejarahku, langsung kuambil bingkisan tadi. Sepertinya isinya buku, tetapi terlalu ringan untuk bingkisan sebesar ini. Kalau emang buku, kira-kira berisi 15 buku tulis yang isinya 58 lembar. Tapi beratnya nggak sampai segitu. Saaat akan kubuka, tiba-tiba simbok mengetuk pintu dan berkata bahwa makan malam sudah ada. Semua sudah ada di meja makan kecuali aku.

Oh, iya. Hari ini hari ulang tahun adikku. Kulihat ada kue yang tak begitu besar di atas meja. Cukup untuk makan malam satu keluarga. Adikku hanya beda setahun denganku. Memang tidak biasanya ulang tahun dirayakan seperti ini. Tapi ini permintaan adik sendiri, Karena memang aku tahu, bulan depan adikku ini akan ada pertukaran pelajar ke Jerman.

Makan malam kali ini cukup meriah, banyak canda tawa yang menghiasi. Namun juga ada air mata haru dan bahagia. Aku, ayah, bunda, adik, serta simbok. Selama setahun besok adik tidak dirumah. Untuk sementara tak ada lagi yang bercerita tentang ulah teman sekelas yang tak bisa diam, atau cerita-cerita lain yang aneh dan menarik darinya.

**

Aku sudah kembali ke kursiku, didepan laptop, siap membuka bingkisan kotak yang dibungkus rapi dengan kertas minyak coklat. Memang tadi sore sahabatku sms, Rangga dapet titipan bingkisan dari temen sekelasnya, buatku. Tapi karena tadi aku ada lomba Fotografi, didampingi Pak Suharto ke Taman Budaya yang letaknya berada samping toko buku dimana minggu kemarin aku kesana dengan sahabatku. Aku izin saat jam ke tiga, jam pelajarannya pak Budi. Pak Suharto sudah siap di luar kelas ku. Aku pergi setelah pamit dengan teman-teman sekelas, sekaligus minta doa agar bisa menjuarai lomba.

Lomba kali ini hanya tingkat kota. Diadakan oleh salah satu komunitas fotografer nasional, khusus untuk siswa SMA sederajat, bertema ‘Tolong-menolong’. Sebenarnya aku tak tahu ada lomba ini, tapi sehari sebelumnya Pak Suharto memberitahuku. Beliau tahu aku suka dengan fotografi, walaupun memang dari dulu aku belum punya kamera. Hanya bermodal minat dan tekad, dengan kamera pinjem sana-sini, kini aku sudah mempunyai jutaan foto yang ada di harddisk laptopku. Beberapa di antaranya sudah menjuarai bebagai lomba.

Dulu, aku ikut lomba secara mandiri. Cari info sendiri, mendaftar sendiri, berangkat sendiri. Tapi setelah tiga kali maju kedepan saat upacara, menyerahkan duplikat piala lomba, aku sudah dihafal oleh beberapa guru, terutama Pak Suharto. Saat kelas satu memang aku masih aktif mencari lomba, tetapi sekarang saat kelas dua, saat banyak kegiatan dari organisasi sekolah, saat aku mulai punya kesibukan mengurus acara-acara, aku jarang mencari lomba. Semester satu kelas dua aku sama sekali tidak membawa piala, hal ini diteliti oleh Pak Suharto. Setelah beliau mengetahui kesibukanku, beliaulah yang sering membawakan berita-berita lomba. Meskipun begitu, tidak semua lomba sempat aku ikuti, tidak semua lomba aku juarai. Tetapi tetap, tidak menghilangkan kecintaanku dengan fotografi.

Aku tersadar dari lamunan, mengingat-ingat kebaikan Pak Suharto, yang sekarang memang seperti sosok ayah di sekolah, walaupun usianya lebih tua dari ayahku. Secara perlahan kubuka bingkisan yang ada di tanganku. Ternyata di dalamnya ada bingkisan lagi, berwarna pink disertai corak indah berwarna nila. Dibaliknya ada selembar kertas, dan ternyata tulisan didalamnya ditujukan untukku.

 

Assalamu’alaikum.

Ari, maaf.. bingkisan ini sebenarnya untuk Dinda. Sejak tiga hari yang lalu aku cari Dinda. Ia tidak berangkat les. Jadi aku titipkan ke kamu. Tolong diberikan ke Dinda ya, terimakasih.. maaf merepotkan.

Wassalamu’alaikum.

 

Nisa

 

Ah, jadi ingat sandal saat CIS dulu. Seusai CIS banyak isu-isu yang berdar tentang aku dan Nisa. Tak hanya kita sih, tapi juga beberapa pasangan lain yang maju saat CIS. Beberapa ada yang jadian karena emang sama-sama suka, beberapa ada yang berlalu, hilang begitu saja seperti saat kita buang air besar. Tapi rumor antara aku dan Nisa memang salah satu yang cukup lama hilangnya, bahkan beberapa ada yang masih mengungkitnya hingga sekarang.

Memang sih aku suka, tapi ngga harus pake pacaran segala kan. Emang kalo pacaran itu ngapain sih? Jalan bareng? Pegangan tangan? Berduaan? Nonton bareng? Kupikir tanpa pacaran aku juga bisa ngelakuin semua itu. Itulah yang aku pikirkan dulu saat masih fresh setelah CIS. Tetapi sekarang aku tahu pacaran itu bukan jalanku. Dulu, setelah agak sering nongkrong bareng anak-anak Rohis di Mushola, aku jadi tahu batasan-batasan yang dibolehkan maupun yang tidak boleh dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

“Yang pertama itu harus menjaga pandangan, karena konon katanya pandangan itu salah satu anak panah setan. Yang kedua nggak boleh sentuhan yang bukan muhrim. Terus yang ketiga nggak boleh berduaan, kalo anak-anak Rohis dulu nyebutnya Kholwat, ngga boleh karena nati yang ketiga itu setan. Yang keempat kudu jaga suara, nggak boleh ngomong mendayu-dayu sama lawan jenis.” Sesampainya dirumah aku langsung cerita gitu sama Adinda, setelah diberitahu oleh Mas Rahmat, sang ketua Rohis.

Masa-masa saat masih belum tahu seluruhnya tentang ajaran agama Islam, masih hijau. Sekarang sudah lebih mengerti tentang Islam. Tiap pekan ada Mentoring, dari alumni SMA sini. Yang mengampu namanya Mentor, Mentorku namanya Mas Ridwan. Orangnya agak aneh, hampir mirip sama aku. Tapi bedanya Mas Ridwan ini pengetahuan Islamnya dalem, nggak kayak aku. Waktu masih kelas satu jarang ikut ginian, soalnya Mentornya bukan mas Ridwan. Jarang berangkat dan jarang sms, enggak kayak Mas Ridwan yang kadang ngirim sms tentang hadits atau tausiah singkat.

**

Dinda ternyata nggak ada di kamarnya. Mungkin lagi beres-beres habis makan malam tadi. Dinda sudah ada di ujung tangga saat aku akan turun. Raut wajahnya memancarkan rasa penasaran ketika melihatku membawa bingkisan pink dari Nisa.

“Apa itu kak?” Tanyanya.

“Nggak tau nih apa, dari Nisa. Buat kamu katanya.”

“Oh iya, kemarin mbak Nisa juga bilang lewat sms, mau ngasih sesuatu dan pengen ketemu pas les bahasa inggris sore kemarin.”

“Oh gitu, kamu waktu itu ke Dinas ya? Ngurus tentang pertukaran pelajar itu.”

“Iya, jadi ngga bisa ketemu. Terus emang katanya mau dititipin kakak.”

Oh, gitu.. untung aja tadi nggak ketemu Nisa di kelas, bisa rame lagi nanti kalo pada liat Nisa ngasih bingkisan ini ke aku.

“Buka bareng yuk kak.” ajak adikku saat aku akan keluar dari pintu kamarnya. Akupun kembali duduk di samping kirinya, di kasur warna pink, warna favoritnya.

“Aku temenin aja, kamu yang buka dik.” Dinda lalu mengangguk dan membuka kertas kado warna pink itu.

Ia membukanya dengan sangat hati-hati. Seakan ia tak mau kertasnya sobek walau sedikit. Isi dalamnya mulai terlihat. Ada mushaf, mukena, dan buku diary dengan cover salah satu pemandangan di Jerman, serta selembar kertas merah muda yang diselotip di belakang buku diary. Dinda mengambil kertas tadi dan membacanya pelan.

 

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Selamat ya! Adinda terpilih menjadi siswa pertukaran pelajar, apalagi ke Jerman!

Maaf, mbak hanya bisa memberi sedikit. Walaupun mbak tahu Dinda sudah punya Al-Qur’an, tapi mbak lihat punya Dinda sudah cukup tua. Halamannya juga sudah banyak yang lepas. Setidaknya bawa ini dulu dik kalau ke Jerman. Dan mbak berharap disana Dinda masih sering membaca Kitab ini.

Mbak juga belikan mukena baru untuk Dinda, dengan warna kesukaan dinda. Dengan ini mbak juga berharap disana Dinda jangan sampai melupakan sholat. Sholat dhuha dan sholat malam kalau bisa di tambah ya dik 😉

Yang terakhir mbak memberi buku diary buat Dinda. Mbak berpesan agar tetap jaga apa yang adik sukai, yaitu menulis. Walaupun hanya menulis di diary ini. Mbak nantikan juga apa yang ada di dalamnya, kalau boleh dik 😀

Sekian dari mbak, Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

 

Mbak Nisa

 

Aku lihat mata adikku berkaca-kaca. Ku rangkul dirinya. Ia sandarkan kepalanya di pundakku.

“Mbak Nisa baik ya kak. Buat Dinda, mbak Nisa udah seperti kakak kandung sendiri.” Ia berkata pelan, penuh arti.

“Kalau Nisa kakak kandung Dinda, terus aku dikemanain?” Tanyaku dengan nada datar.

“Ahh.. kak Ari ini malah bercanda.” Sambil ia pukulkan bantal yang barusaja diambilnya.

Hanya ku balas dengan senyum manis setelah ku tangkis pukulan bantalnya.

“Dinda ingin deh sebaik mbak Nisa. Mbak Nisa sering kasih pesan ke Dinda, ‘Sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.’” lagi-lagi ia berkata pelan penuh makna, sambil memposisikan kepalanya tiduran di pangkuanku. Dan muncullah keheningan sesaat.

“Berarti sekarang Dinda bukan orang yang baik? Jadi anak nakal berarti kalo gitu.” Kataku dengan tatapan kosong lurus kedepan.

“Ah.. kakak emang jahat, masih mending dinda yee..” pukulan bantalnya kali ini mengenaiku. Aku hanya mengaduh pelan, dan melempar senyum lagi untuknya.

“Dari dulu senyumnya kakak memang aneh. Penuh misteri, mistis, tapi juga manis.” Kata-katanya barusan membuat senyumku semakin mengembang.

“Besok..” Ucapnya sambil melihat cover diary yang diberi oleh Nisa. “Aku pasti kangen sama senyumnya kakak.” Lanjutnya.

“Besok kakak kirimin deh senyum kakak.”

“Gimana caranya? Emang bisa ya kak?”

“Liat aja besok. Hihihi…” Spontan ia pasang raut wajah cemberut, walau hanya sesaat.

“Bingkisannya udah dibuka kan? Kakak balik ke kamar kakak ya?” kataku sambil berdiri.

“Sip!” Dinda mengacungkan jempulnya kearahku.

Akupun berjalan keluar. Saat mencapai batas pintu, dinda memanggilku.

“Kakak.”

“Iya?”

“Makasih ya kak.”

“Buat apa? Yang ngasih bingkisannya kan Nisa.”

“Bukan itu.”

“Terus?”

“Udah mau nemenin Dinda buka kado, dan..”

“Hm?”

“Makasih karena selalu jadi kakak dinda yang baiiiikk banget!” ujarnya sambil meringis.

Aku terdiam sesaat, hanya kuberikan sebuah senyumku. Dinda lalu membalasnya dengan sengan senyum juga, yang merurutku lebih manis, cantik, nan indah.

“Selamat tidur ya dik, Assalamu’alaikum.” Ku tutup pintu kamarnya perlahan.

“Wa’alaikumsalam.” Jawabnya. Terdengar olehku sesaat sebelum pintu benar-benar tertutup.

**

Di perjalanan yang singkat menuju kamarku, aku teringat tentang Nisa. Nisa orangnya emang baik, pengertian, dan menurutku juga pemalu. Wah, Nisa aja udah ngasih hadiah ke dinda, kenapa aku nggak?

Dinda kenal dengan Nisa di tempat les bahasa Inggris saat Dinda belum lama menduduki bangku SMA. Mereka ada dalam satu kelas. Hubungan mereka semakin mendekat, apalagi saat mereka mengetahui bahwa mereka satu sekolahan. Setelah seminggu mereka saling kenal, mereka jadi sering bertemu, tak hanya di tempat les. Hingga saat pas sepuluh hari setelah perkenalan mereka, Nisa berkunjung ke rumah.

Siang itu ayah dan bunda belum pulang. Simbok sedang tidur siang di kamarnya. Jadi akulah yang menyiapkan minuman dan snack. Saat itu Nisa belum tahu, bahwa kakak yang sering Dinda ceritakan kepadanya adalah aku. Aku pun juga tak mengetahui bahwa tamu yang mendatangi kita saat itu adalah Nisa. Aku kaget. Diam sejenak saat memasuki ruang tamu. Begitu juga dengan dirinya yang melihatku membawakan suguhan.

Sejak saat itu, Dinda lebih sering menceritakan tentang Nisa. Tentang dirinya yang baik, penuh pengertian, dan rasa malunya yang cukup tinggi.

“Brrrrrrrtt”

HPku bergetar. Setelah ku lihat, ada sms dari sahabatku.

“Udah ketemu siapa yang nyariin kamu?”

“Belum, mungkin ya cuma anak-anak yang sukanya liat-liat itu” Send!

Incoming Message: “Oh, gitu.. tadi lombanya juara nggak?”

“Alhamdulillah juara satu :D” Send!

Incoming Message: “Wah, besok siang ada makan gratis nih.. hehehe… jadinya pakai foto yang mana?”

“Roger that! Foto yang kita ambil seminggu yang lalu waktu beli buku. Yang gambarnya siluet seorang anak yang nuntun orang buta nyebrang jalan.” Send!

Incoming Message: “Yang di pinggir jalan ada anak kecil lain lagi memberi uang ke penjual buku itu? Yang malah kelihatan kayak ngasih uang ke pengemis”

“Iya yang itu, untung waktu itu dapet pinjeman kamera yang bagus. Besok aja deh aku ceritain semua.” Send!

Incoming Message: “Okedeh :D”

Aku jadi teringat hadiah lomba tadi. Ku ambil amplop putih yang ku selipkan di sela-sela buku bacaanku. Ku hitung-hitung uang yang ada di dalamnya. Sepertinya cukup,sepertinya besok aku harus cari hadian buat Dinda. Batinku dalam hati. Mungkin ngajak dia sekalian cari makan di luar buat syukuran. Aku ambil lagi HPku. Ku tulis pesan singkat ke sahabatku.

“Makannya di luar aja ya, pulang sekolah. Sekalian mau beli sesuatu.” Send!

Incoming Message: “Siap Komandan! Mau beli apa nih?”

“Liat aja deh besok! Hadiah buat adikku ini” Send!

Incoming Message: “Sip! I’m looking forward to.”

Bagus! Besok bisa beli itu buat Dinda. Sekalian hunting lagi aja deh. Pinjem kameranya mas Redi lagi, semoga lagi nganggur. Batinku dalam hati.

Aku buka lagi laptopku, kembali melanjutkan tugas sejarah yang sejak kemaring belum selesai-selesai.

 

Bersambung..

Iklan

One thought on “Bingkisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s