3 idiot

Sebenarnya disini aku tidak akan bercerita tentang film yang berjudul 3idiot. Tapi aku akan mengisahkan tiga orang yang memiliki kehebatannya masing-masing, atau aku lebih senang menyebutnya kejeniusannya masing-masing.

Terinspirasi dari tiga sosok manusia nyata yang memiliki suatu posisi yang tidak dimiliki teman seangkatannya.

Orang pertama

Secara sekilas, orang ini biasa-biasa saja. Karena saking biasanya itu menurutku orang ini menarik. Orang biasa yang aku maksudkan disini dia adalah orang yang positif, orang yang baik. Oiya, biasa yang aku maksudkan disini dari segi tingkah laku. Untuk kemampuan, ia menyukai suatu cabang ilmu, yang sepertinya terdengar umum di kalangan anak laki-laki.

Sebelum aku bercerita lebih jauh, kalau teman-teman pernah membaca Bakuman, orang ini mirip dengan karakter Azuki Miho. Perbedaannya ada di jenis kelamin, kalau orang yang aku ceritakan disini itu laki-laki, sedangkan karakter Azuki Miho perempuan.

Azuki Miho secara akademis termasuk yang rata-rata, tidak diatas maupun dibawah. Menurutnya, menjadi perempuan yang terlalu pintar itu tidak bagus. Ia mempunyai mimpi menjadi pengisi suara (voice actor) yang diceritakan pada zaman itu, itu adalah mimpi yang umum dimiliki oleh perempuan. Dia tidak memperhitungkan apa yang ia lakukan, ia hanya menjadi perempuan biasa. Dia anggun, tidak terlalu serius, dan tidak terlalu pintar. Tapi itulah yang membuatnya menarik. Dalam komik itu ia juga dibandingkan dengan karakter yang bernama Iwase, sosok perempuan yang selalu belajar. Bisa disebut sebagai study oriented. Dan termasuk rangking atas. Tetapi tak ada yang menarik dalam karakter ini karena ia hanya belajar dan belajar.

Kita lanjutkan dengan orang yang aku ceritakan tadi. Dia kuliah di jurusan Elektro, cabang ilmu yang umum untuk laki-laki. Dia bisa bermain sepak bola, meski tidak terlalu pintar. Dia tidak banyak bicara, dan bukan pendiam. Tingkah lakunya belum lengkap kalau untuk jadi teladan, tapi dia juga bukan anak nakal. Dia tidak kaya, juga tidak miskin. Dia bukan termasuk anak-anak yang populer, juga bukan anak yang tidak dikenal (low profile).

Semua yang ia lakukan terkesan sangat biasa, dan itu membuatku tertarik. Orang yang satu ini jauh dari sifat fanatik. Semua yang ia lakukan sangat tidak berlebihan, bisa dibilang dalam kadar yang normal. Dia menyukai sesuatu, namun juga membenci sesuatu. Suka dan bencinya itu masih dalam taraf yang wajar. Apa yang ia suka dan ia benci juga sesuatu yang memang pada umumnya disuka dan dibenci.

Salah satu kata-katanya yang paling aku suka adalah, “tidak ada yang bisa dibanggakan jika kamu menjadi anak yang biasa” (kurang lebih seperti itu)

Orang kedua

Orang kedua bisa dibilang dia anak yang jenius. Meskipun dalam tingkah laku dia sering agak nyleneh. Secara akademis anak ini cukup bagus, bisa dibilang diatas rata-rata. Saat tes masuk perguruan tinggi dia membuktikan bahwa dia anak yang pintar. Terbukti dengan masuknya ia ke universitas negeri rangking atas dengan jurusan yang bisa dibilang cukup sulit untuk dimasuki, yaitu di Manajemen UGM.

Mungkin kalau itu saja belum cukup kalau dibilang jenius. Memang secara akademis dia termasuk anak yang pintar, tetapi tak hanya itu. Dia juga anak yang sangat aktif di berbagai organisasi. Bahkan posisinya di organisasi juga bukan main. Beberapa organisasi menempatkannya sebagai posisi ketua. Ya, tidak hanya satu organisasi yang menempatkannya sebagai ketua. Meskipun di sebuah organisasi ia bukan ketua, ia berada di posisi yang cukup atas. Perannya dalam organisasi juga tidak kalah hebat, ia termasuk dalah orang yang sangat berpengaruh di dalam organisasi.

Dua hal itu tadi sudah cukup membuktikan bahwa ia bukan anak biasa. Tapi teman-teman jangan membayangkan ia sosok yang keren, cool, eksklusif, dan lain-lain. Secaraa pergaulan, dia cukup menarik. Dia bisa bergaul dengan siapa saja, walaupun lebih sering berkumpul dengan orang yang ‘kurang waras’, maksudku orang yang biasa-biasa saja namun menyenangkan. Dia sering bercanda dengan teman-temannnya, salah satunya teman-teman sekelasnya. Seakan-akan perilakunya yang satu ini menyembunyikan sosok sebenarnya. Mungkin kalau ada orang yang baru kenal dia terlihat biasa-biasa saja, meskipun biasanya orang mengenalnya dari prestasi organisasinya. Perilakunya tidak seratus persen perfect, ia juga pernah melakukan kesalahan-kesalahan, meskipun itu kesalahan yang tidak begitu besar. Salah satu contohnya, ia sering terlambat masuk sekolah, dan alasannya biasanya alasan-alasan yang konyol.

Cita-citanya ingin menjadi pengusaha sukses, sesukses-suksesnya orang sukses.

Orang ketiga

Kalau diibaratkan, orang ketiga ini sangat mirip dengan karakter Shikamaru dalam Naruto.

Shikamaru adalah anak yang sangat cerdas. Dari tes IQ yang dilakukan gurunya, ia memiliki IQ diatas 200. Selain cerdas, sifat yang mencolok dari shikamaru adalah pemalas. Ia sangat malas kalau berurusan dengan kertas dan pensil. Ia tidak pernah serius melakukan tes-tes tertulis seperti yang dikatakan gurunya. Saat masih sekolah di genin, ia dan teman-temannya sering keluar dari kelas karena bosan. Waktu pertandingan uji coba yang dilakukan kepada sesama genin, ia memilih kalah didiskualifikasi karena keluar dari arena. Dia suka menghindari masalah. Permainan yang ia sukai adalah permainan orang tua yang mengajaknya untuk berfikir seperti shogi dan lain-lain. Dia malas berurusan dengan perempuan karena menurutnya akan menimbulkan masalah, termasuk juga bertarung dengan perempuan meskipun kenyataannya dalam ujian chunnin dua kali ia mendapatkan lawan perempuan.

Orang-orang dalam komik ini kebanyakan mengetahui kepintarannya saat ujian chunnin yang ketiga, dalam pertarungannya dengan temari. Ia menang dalam taktik. Pertarungan yang awalnya dianggap membosankan malah menjadi menegangkan dan menarik. Meskipun begitu, pada akhirnya ia mengalah karena mengetahui kalau ia tidak bisa mengalahkan musuhnya. Disitu diceritakan bahwa dia mengambil sepuluh kemungkinan terbaik dari seratus kemungkinan yang ada. Dan pada akhirnya, ialah yang berhasil menjadi chunnin, yang pertama di angkatannya.

Orang ketiga adalah orang yang sangat cerdas tapi pemalas. Pada awal kelas satu sma, IQnya bisa mencapai 130, meskipun ia tahu itu bukan hasil terbaiknya. Saat dilakukan lagi tes IQ pada kelas tiga, ia hanya mendapat 126 karena saat itu kondisinya dalam keadaan malas, bahkan hampir tertidur dalam tes tersebut. Dan diantara kedua tes tadi, ia pernah melakukan tes online dan hanya mendapat 140, karena ia melakukan tes tersebut di tampat yang koneksi internetnya lama, saat menunggu halaman tes terbuka (dari loading) ia pindah ke halaman lain dan lupa dengan halaman tadi sehingga ia terlambat beberapa menit di tes tersebut menyebabkan waktu yang tercatat lebih lama dari semestinya.

Kemalasannya terlihat cukup mencolok. Di kelas, ia sering tidur, bahkan keluar dari kelas karena bosan. Ia tidak pernah serius belajar di kelas maupun dirumah. Ada banyak cerita menarik dari ulangan-ulangan yang ia lalui. Saat kelas dua sma, ulangan matematika sering mengambil soal dalam lks. Yang menarik dari ulangan matematikanya adalah karena ia tidak pernah belajar, ia melakukannya dalam ulangan tersebut. Jadi misalkan diberi waktu 30 menit untuk mengerjakan soal, dalam waktu itu ia belajar sekaligus mengerjakan ulangan tadi.

Dia selalu melakukan apa yang menurutnya menarik dan apa yang ia suka. Cara ia mengerjakan soal berbeda dengan yang lain. Contohnya saat mengerjakan soal fisika (karena ia ada di jurusan IPA). Jika biasanya kita memasukkan apa yang diketahui ke dalam rumus lalu keluar jawaban, ia tidak begitu. Proses ‘diketahui ditanyakan jawab’nya sedikit berbeda. Yang diketahui adalah pilihan jawaban dan beberapa data yang ada dalam soal, yang ditanyakan adalah proses logis munculnya salah satu jawaban dari data yang ada di soal dengan rumus seingatnya (karena ia tak pernah belajar).

Saat ujian kenaikan, yang ia pikirkan bukan bagaimana agar mendapatkan nilai terbaik. Tetapi berapa nilai minimal yang bisa ia dapatkan agar ia bisa naik kelas. Begitu juga saat UN. Meskipun ia mengikuti bimbel, ia jarang berangkat, begitupun dirumah, ia tetap saja jarang belajar walaupun waktu menjelang UN cukup dekat. Bisa dikatakan bahwa dia belajar untuk UN hanya malam menjelang UN. Ia belajar secukupnya agar esoknya ia bisa mengerjakan soal. Dan hasil UNnya juga tidak jauh berbeda dengan temannya yang belajar mempersiapkan UN berbulan-bulan.

Ada lagi yang menarik, yaitu saat penjurusan kenaikan kelas dua. Dia termasuk anak yang ingin masuk jurusan IPA. Biasanya, orang lain kan belajar lebih banyak ke IPA agar masuk IPA. Tapi berbeda dengannya, tak ada yang berubah dengan belajar IPAnya, bukan berarti dia sudah bagus dalam pelajaran-pelajaran IPA, malah bisa dibilang biasa-biasa saja, bahkan tidak cukup bagus. Lalu bagaimana caranya agar masuk IPA? Karena di sekolahnya hanya ada dua jurusan, kalau tidak IPA ya IPS. Dan yang ia lakukan adalah menurunkan nilai IPSnya. Ia tahu cara itu lebih mudah daripada cara biasa dengan menaikkan nilai IPAnya. Untuk jaga-jaga manurunkannya pun juga tidak tanggung-tanggung, ia mendapat nilai 6 untuk geografi dan 5 untuk sejarah di RAPOTnya. Saat penerimaan raport, jika orang biasa khawatir menunggu pengumuman jurusan apa yang akan ia dapat, anak ini justru khawatir apakah ia akan naik kelas atau tidak, karena jika naik kelas tentu ia akan masuk IPA.

Oiya, orang ketiga ini kuliah di jurusan matematika, mekipun bukan di universitas terbaik. Proses mencari kuliah juga cukup menarik untuk dibahas.

Dia hanya mengikuti satu ujian masuk, yaitu SNMPTN dan langsung diterima. Karena sifat malasnya, ia tidak mau mengikuti berbagai ujian masuk. Pilihan jurusannya juga menarik. Disitu setiap orang memiliki tiga pilihan. Pilihan yang ia ambil berturut-turut adalah Pendidikan Dokter di UGM, Psikologi di UGM, dan Matematika di UNY. Jika diberi satu pilihan lagi, mungkin dia akan menambahkan komputer. Kenapa dia tidak memasukkannya kedalam pilihan? Karena komputer yang ia pelajari hanya pada ilmu-ilmu yang ia suka. Juga ia lebih suka belajar otodidak dalam komputer. Sebenarnya, dalam tiga pilihan tadi, orang ini lebih menyukai pilihan kedua daripada pilihan pertama. Lalu kenapa ia tidak menggantinya menjadi pilihan pertama?

Alasan utamanya memang karena pilihan pertama memiliki passing grade yang paling tinggi. Tetapi asal-usulnya memilih jurusan ini juga tidak biasa. Pilihan pertama itu malah terakhir ia tentukan setelah pilihan kedua dan ketiga dan bisa dibilang ini adalah tumbal. Awalnya ia bingung memilih komputer atau dokter sebagai pilihan pertama, tetapi karena ini adalah tumbal, sengaja ia memilih yang lebih tinggi. Ia mengambil jurusan ini karena ia suka, dan orang tuanya mengharapkannya untuk menjadi dokter. Ia menyukai komputer karena hobi. Pilihan kedua ia ambil karena ia menyukainya. Mempelajari tingkah laku dan pola pikir manusia. Dia cukup sering mengamati teman-temannya untuk yang satu ini. Dan kenapa dia memlih matematika? Karena dia anak IPA, kenapa bukan yang lain? Karen matematika lebih ia sukai. Kenapa di UNY? Kok tidak sekalian di UGM? Kerena pilihan ketiga ini juga tumbal, tumbal yang benar-benar tumbal, jika kedua pilihan sebelumnya tidak masuk.

Jika ia orang yang cerdas, kenapa ia masuk di pilihan ketiga? Ceritanya cukup sederhana. Ia sakit dalam melakukan tes SNMPTN. Sakit seminggu, tesnya terjadi di hari ke lima sakitnya.melihat caranya belajar untuk menghadapi UN, bisa dikatakan bahwa ia sama sekali tidak belajar dalam tes ini, bahkan ia melakukannya dalam keadaan sakit. Dan sebelum sakit ini, kakeknya meninggal, yang membuatnya kecapekan dan samasekali tidak belajar dalam jangka waktu semingu (lalu dia sakit). Sakit yang dideritanya juga bukan sakit ringan. Karena itu aku salut dengan orang ketiga ini.

Orang ketiga ini pun bersyukur masuk ke pilihan ketiga. Karena ia tidak terlalu suka tugas yang berhubungan dengan tulis menulis seperti laporan dan makalah, atau sejenisnya. Karena di matematika tidak ada praktikum, maka tidak ada laporan, meskipun masih ada makalah yang harus ia kerjakan. Dia tidak membayangkan kalau dia diterima di pilihan kedua yang tentunya banyak tugas-tugas seperti ini. Pada akhirnya ia mempelajari psikologi langsung dalam kehidupan nyata. Dia juga bersyukur tidak masuk pilihan pertama, karena dia termasuk orang yang kuliah sesukannya, seenaknya sendiri. Kalau dalam matematika setidaknya ia bisa memahami materi, tidak harus di dalam kelas tentunya. Kalau di pendidikan dokter? Apa jadinya nanti..

Kata-kata yang menarik dari orang ketiga adalah, “bedakan antara orang pintar dengan orang yang cukup pintar membuat dirinya terlihat pintar” karena orang pintar belum tentu cerdas :P.

***

Hehe.. sepertinya aku cukup banyak menceritakan orang ke tiga (soalnya aku paling kagum). Cerita diatas hanya menceritakan dari beberapa sisi saja, kalau diceritakan semua, sungguh akan lebih menarik. Intinya, setiap orang itu diciptakan unik. Hanya ada satu yang seperti itu. Dan setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing. PD aja jadi dirimu sendiri. “lebih baik kamu dibenci sebagai dirimu, daripada kamu disukai tetapi bukan sebagai dirimu”. Hm.. aku lebih suka kata-kata aslinya, “be hated for what I am is better than to be loved for something I am not”.

Sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil dari ketiga orang tadi, tapi cari sendiri ya, hehehe.. kata-kata terakhir dariku:

be who you want to be, not others chose to see

🙂

Iklan

2 thoughts on “3 idiot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s