Tulisan Tidak Jelas (TTJ): Part 1

tulisan ini hanya kumpulan twit dari teman saya. Karena cukup menarik, akhirnya aku rapikan dan aku post.

 

Haha, kata-kata yang ditangkap oleh seorang anak kecil, terus menerus, akan menjadi bagian dari hidupnya dalam jangka waktu yang panjang. ;D

Naik kereta api, tut tut tuuuut, ….. Marilah naik dengan PERCUMA

Penulis akhirnya sadar setelah beberapa waktu, dan akhirnya mengganti dengan buku saja. Karena ia ingin adeknya bayar tiket kereta. 😀

Meletus balon hijau.. dor… HATIKU SANGAT KACAU

si kancil ANAK NAKAL, suka MENCURI KETIMUN, ayo LEKAS DIBURU, (nih yang paling bahaya) JANGAN DIBERI AMPUN

saya jadi mikir, jangan-jangan kita suka menggalau gara-gara dulu kerap menyanyi Balonku ada 5, kemudian tawuran-tawuran dan kejadian anarkhis (senggol sithik, bacok) itu gara-gara lagu kancil? 😀

Nah. nah. Ini yang bahaya buat para pelajar.

Amrin SUKA MEMBOLOS, kata bu guru JANGAN MEMBOLOS, nanti….

Kemudian, saya berpikir: bahwa dalam lagu itu terdpat ancaman. “Awas kalau begini! nanti “nganu” lho!”. Padahal, dalam ilmu psikologi, ketika manusia mendengar kata ‘jangan’, yang dilakukan justru sebagian besar adalah kebalikannya. 😀

“Jangan Merokok di Tempat Umum!” “Dilarang Menginjak Rumput!” (tadi maksudnya, kata jangan dan sejenisnya), “Inbox SMS jangan di buka!” 😀

Haha, ini parah lagi nih… cekidot:

“Kakak Mia, Kakak Mia, MINTA ANAK barang seorang….” 😀

Kemudian secara SARKASME, penulis menuliskan: “Siapa bilang pendidikan itu tanggung jawab pemerintah, ya orang tua dong!” 😀

kalo saya sih, ya tanggung jawab bersama. Tapi ada benarnya juga. soalnya, pendidikan awal yg diterima anak secara intens aadalah dari keluarga. Itulah yang disebut dengan Sosialisasi Primer, sebab keluarga adalah tempat menerima nilai-nilai dan norma-norma yang pertama kali sampai seterusnya hingga akhirnya nilai dan norma itu terbangun kuat sebagai pondasi anak. Akhirnya, pengembangan dirinya lebih mudah karena pondasinya kuat. Jadi, apa rencana pembaca muda buat anak-anaknya (kelak :D)? saya sih ingin membangun anak saya dengan pondasi agama yang kuat.

Karena agama (untuk saya sebagai Muslim), akan dibawa sampai mati, dan akhirnya dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. 😀

sedikit tambahan soal “jangan”, contoh kita mengucap: “jangan BUNUH DIA”, alam bawah sadar justru mmbca kata-kata setelah kta jangan, CMIIW 🙂

wo iyo, tapi bukan berarti kalo kita memberitahu adek/anak kita (kelak :D), trus dikataka yang sebaliknya lho. Haha. Cara penyampaiannya saja yang dibuat agar adek/anak kita (kelak :D) itu kuat secara mental dan menjadi anak yg baik. Misal, si penulis tadi mengganti dengan cerita-cerita tentang “Aku sayang ibu, Aku sayang kakak”. Kalo saya, daripada anak saya (kelak :D) ketakutan ssetengah mati sama setan, mending ajarin ayat kursi, terus ditanamkan sejak dini, bahwa tak ada yang perlu ditakuti, kecuali hanya pada Allah SWT. yg ada itu waspada.

Bentar, ada satu lagi tips.
Memarahi anak bukan solusi untuk mencegah perbuatan jelek terulang kembali.

19062011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s