Bersabar dalam Memahami, Berani untuk Dipahami

Setiap orang memiliki harapan dan kepentingannya masing-masing. Bahkan, orang yang paling mirip sekali pun, belum tentu memiliki pemikiran atau keinginan yang sama setiap saat.

Kita tidak dapat mengharapkan orang lain untuk memahami kita begitu saja. Kita juga tidak bisa hanya mengandalkan intuisi dan empati kita untuk memahami orang lain. Inilah mengapa komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hubungan antar manusia.

Perbedaan yang terdapat pada tiap orang, menyebabkan diperlukannya usaha ekstra untuk dapat saling memahami satu sama lain. Tidak hanya apa yang diinginkan seseorang, cara seseorang itu melihat segala sesuatunya juga menjadi tantangan tersendiri dalam usaha memahami dan dipahami ini.

Dari masalah-masalah sederhana seperti rasa es krim yang kita sukai, sampai yang menyangkut perasaan-perasaan terdalam kita. Tanpa komunikasi yang baik, akan tercipta banyak kesalahpahaman yang pada akhirnya dapat menimbulkan, masalah, konflik, bahkan merusak suatu hubungan.

Diperlukan kesabaran untuk memahami orang lain. Berusaha benar-benar mendengarkan apa yang mereka rasa dan pikirkan, hal-hal yang mereka suka dan tidak suka, keinginan, harapan, juga ketakutan-ketakutan mereka. Mendengar dengan sabar berarti tidak memotong segala yang mereka katakan dengan penilaian-penilaian kita atau hal lain yang menarik bagi kita, tidak memikirkan diri sendiri atau hal lain ketika seseorang sedang berbicara dengan kita. Dengan begitu, kita bisa melihat lebih dalam, mendengar apa yang tersirat di balik setiap kata-kata yang dikatakan, lalu merespon dengan lebih tepat pula. Kegiatan mendengar ini perlu dilakukan, sebelum kita menilai seseorang atau memutuskan sesuatu tentang orang tersebut.

Rasulullah saw. senantiasa mendengarkan orang lain dengan seluruh perhatiannya. Beliau menghargai lawan bicaranya sedemikian rupa, sehingga mereka tidak merasa diremehkan, dan bahwa mereka didengar dengan sepenuh hati. Seperti yang disebutkan dalam hadis berikut:

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw. tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya ke wajah teman bicaranya lalu Rasulullah saw. tidak akan berpaling dari wajah seseorang sebelum ia selesai berbicara. (HR. ath-Thabrani).

Selain memahami orang lain, kita juga harus berusaha untuk dipahami. Diperlukan keberanian untuk ini. Memberitahu orang lain ide dan pemikiran kita, perasaan kita, bagaimana kita ingin atau tidak ingin diperlakukan, masalah-masalah penting apa yang perlu dibahas menurut kita, dan sebagainya. Tentu saja, kita juga perlu memperhatikan cara kita menyampaikannya, agar mudah dipahami dan tidak malah menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. Seperti yang dilakukan Rasulullah saw. dalam hadis berikut:

‘Aiysah ra. berkata: “Tutur kata Rasulullah sangat teratur, untaian demi untaian kalimat tersusun dengan rapi, sehingga mudah dipahami oleh orang yang mendengarkannya.” (HR. Abu Daud).

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan dalam melakukan komunikasi adalah kejujuran. Mempersiapkan diri untuk mendengar kejujuran dari orang lain dan membiasakan diri untuk selalu berkata jujur. Walau tidak mudah, terasa menakutkan atau menyakitkan, namun kejujuran akan mendorong keterbukaan, meningkatkan kepercayaan dan pemahaman, memperlancar komunikasi, serta membawa kebaikan yang lebih besar pada akhirnya.

Rasulullah saw. bersabda: “Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit.” (HR. Ibnu Hibban).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s