Berkata dengan Hati, Berhati-hati dalam Berkata

Lidah memang tak bertulang. Mulutmu adalah harimaumu. Kedua pepatah tersebut menggambarkan bagaimana segala macam perkataan dapat keluar dari mulut kita, dan apabila kita tidak hati-hati menjaganya, perkataan kita dapat berakibat buruk bahkan mencelakakan diri kita.

Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam. (HR. Bukhari).

Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga. (HR. Bukhari).

Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya. (HR. Ibnu Hibban).

Perkataan adalah sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali tanpa meninggalkan bekas. Ia dapat lebih tajam dan melukai lebih dalam daripada sebilah pisau. Luka yang ditimbulkannya pun lebih bertahan. Karenanya, kita harus benar-benar memikirkan kata-kata yang hendak kita keluarkan.  Seringkali, sulit untuk mengendalikan ucapan kita, apalagi pada saat marah.  Sebab itu, kita sebaiknya meredakan amarah kita dulu, agar dapat berpikir dengan lebih jernih dan mengemukakan pendapat serta perasaan kita dengan lebih baik. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad).

Saat bertukar pikiran atau mencari solusi dari suatu masalah, juga tedapat adab-adab tertentu yang perlu diperhatikan.  Dalam hal ini, berdiskusi atau bermusyawarah dengan kepala dingin sangat dianjurkan. Musyawarah dilakukan dengan tujuan untuk mendengar dan memahami satu sama lain, kemudian mencari jalan keluar yang terbaik dari masalah yang ada.  Adab sopan santun dan saling menghormati harus dijaga di dalamnya.  Ini sebabnya, perdebatan bukan sesuatu yang dianggap baik dalam menyelesaikan masalah. Dalam berdebat, biasanya kita lebih bertujuan untuk memenangkan pendapat kita. Tak jarang, ketika menyampaikan pendapat, kita terbawa emosi, melupakan etika dan tujuan awal, semua jadi semata-mata berpusat pada kepuasan ego masing-masing.  Perdebatan lebih banyak memicu pertengkaran, merusak hubungan, dan menimbulkan permusuhan. Rasulullah saw. pun bersabda:

Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya. (HR Abu Daud).

Menyimak kembali hadis pertama di atas, perlu kita garis bawahi bahwa diam bukanlah pilihan pertama.  Diam adalah baik ketika kita tidak memiliki kebaikan atau kebenaran untuk dikatakan. Namun, apabila sesuatu yang kita katakan dapat membawa manfaat dan kebaikan bagi orang lain, lebih daripada kediaman kita, maka mengatakannya adalah lebih baik. Bahkan, kita dianjurkan untuk mendorong diri agar dapat sebanyak-banyaknya bermanfaat bagi lingkungan, termasuk dengan perkataan kita.  Yang perlu kita perhatikan adalah pilihan kata serta kualitas perkataan kita. Jangan sampai perkataan kita dipenuhi kesia-siaan, lebih-lebih menyakiti orang lain, merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Demikian juga dengan diam kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s