Bukan Sekedar Nama

Bukan Sekedar Nama

“Muhammad” adalah nama pemberian Abdul Muthalib kepada Nabi kita shallalahu alihi wa sallam. Sebuah nama yang belum pernah dipakai sebelumnya oleh orang-orang Arab . Terasa janggal dan tidak lazim dikalangan mereka. Karenanya, tidak aneh ketika ada yang menanyakan perihal tersebut kepadanya.

“Kuinginkan dia menjadi orang yang Terpuji, bagi Allah yang di langit dan bagi penduduk bumi di bumi,” begitulah jawab Abdul Muttalib ketika ditanyakan kenapa tidak menamai cucunya itu dengan nama para nenek moyang mereka.

Sang kakek menyelipkan dalam nama yang ia berikan untuk cucunya sebuah harapan besar agar kelak dirinya menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan yang dilangit dan bagi makhluk-Nya dibumi. Nama itu sekaligus menjadi doa yang akan terus mengiringi kehidupan pemiliknya. Dan semua harapan itu terkabul. Cucunya menjadi orang yang terpuji di langit dan dibumi, kehadirannya membawa kebaikan dan keberkahan dan tidaklah orang yang mengenalnya dengan baik kecuali memuji keagungan akhlak dan budi pekertinya.

Nama bukanlah sekadar nama, tetapi terselip di dalamnya doa dan harapan orang tua. Nama juga tanda kerendahan, keluhuran, kecerdasan, keluguan atau bahkan kedunguan orang tuanya. Nama yang buruk memberikan beban psikologis tersendiri kepada sang anak. Beban itu akan terus menyertainya selama panggilan itu masih melekat dalam dirinya dan selama masih ia dengar dari lisan orang lain. Hal itu juga berlaku untuk mereka yang mempunyai nama yang baik. Ada kebanggan yang terselip ketika namanya disebut terasa indah terdengar di telinga. Kepercayaan dirinya sedikit banyak terbangun oleh nama baik pemberian orang tuanya.

Semoga Anda semua memiliki nama-nama yang baik. Nama yang ketika Anda dipanggil dengannya, Anda merasa bangga dan bahagia. Nama yang apabila disandingkan dengan nama-nama teman Anda lainnya, Anda selalu ingin berterima kasih kepada orang tua anda yang telah memberikan nama tersebut. Nama yang membuat Anda mawas diri terhadap perilaku-perilaku buruk, karena hal itu tidak pantas dilakukan oleh pemilik nama seindah nama yang Anda sandang.

Berbanggalah kalau nama Anda adalah salah satu diantara nama-nama orang-orang shalih lagi mulia dari kalangan para nabi, para rasul dan sahabat-sahabat mereka. Nama-nama tokoh yang banyak disanjung sejarah lantaran keluasan ilmu mereka, jasa mereka terhadap agama, bangsa dan negara. Nama yang mengandung makna lurus, memikul arti luhur dan bukan nama yang terlontar begitu saja tanpa sengaja atau nama tokoh yang bila disebut sebuah kesinisan yang muncul.

Apalah arti sebuah nama

Seorang pujangga Inggris kenamaan, William Shakespeare (1564 – 1616 M) dalam dalam sebuah karyanya menuliskan sebuah ungkapan yang banyak sekali dikutip orang, “Apalah arti sebuah nama?”

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet

(Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, tetap saja baunya harum).

Latar belakangnya adalah dialog antara Romeo dengan Juliet (dalam karya romannya) yang tengah membahas kisah cinta mereka. Keduanya dilahirkan dari dua klan yang berbeda yang kebetulan pada waktu itu sedang berselisih. Romeo berasal dari keluarga besar Montague sedangkan Juliet dari keluarga Capulet. Dan Romeo mempertanyakan, “Apa sih arti nama Capulet (nama keluarganya) yang justru membuat perselisihan.”

Kandungan dari pertanyaan Romeo kira-kira demikian; kalau sebuah nama, baik itu nama seseorang, kelompok, komunitas, atau yang lainnya, baik namanya atau buruk adanya, jika pada akhirnya hanya menyebabkan perselisihan dan pertentangan, tentulah penyandang nama itu tiada berarti apa-apa.

Ya, nama tidaklah membawa arti apa-apa sepanjang sang penyandang nama tersebut tidak mampu memberi makna atas namanya lewat perbuatan dan perilaku yang baik. Pendapat bahwa nama tiada punya arti, memunculkan perdebatan panjang yang seolah belum menemukan muara kesimpulan yang satu. Banyak orang menganggap nama tidak penting, dan yang lain menganggap nama sangat penting dan berarti. Setidaknya sampai mereka benar-benar tahu apa sesungguhnya yang ada dibalik sebuah nama. Mari kita kaji lebih jauh!

Belum tentu mewakili

Nama tidak secara otomatis membuat baik pemiliknya, berapa banyak orang yang bernama baik namun berkata dan bertindak tidak baik, berapa banyak orang yang hanya sekedar membawa nama sementara makna dari nama itu tidak terlihat dalam kehidupan. Nama “Karim” bukanlah jaminan bahwa pemiliknya adalah seorang yang murah hati lagi dermawan dan nama “Shidiq” bukan pula garansi kalau dia orang yang layak dipercaya lagi jujur tindak tanduknya.

Jika ada yang berdalih dengan argumen di atas maka tidak semuanya ditolak, karena memang ada fakta yang demikian, namun ini tidak bisa digeneralisir, karena pengecualian akan selalu ada dalam sebuah keumuman, buktinya ada orang yang bernama Karim, akhlaknya bagus dan punya sifat dermawan. Hasan, tingkahnya bagus, bahkan penampilannya juga bagus. Pemilik nama Shidiq pun juga banyak yang jujur tindak tanduknya, amanah dan bisa dipercaya.

Benar, sekadar nama tidak membuat otomatis pemiliknya menjadi baik, mulia dan berbudi, namun minimal, paling tidak, nama yang baik merupakan langkah awal yang baik dan banyak kebaikan terwujud dengan langkah awal yang baik. Bukankah sebuah niat saja sudah bernilai kebaikan. Setidaknya itulah maksud dari sang pemberi nama.

Dan itulah yang diyakini Abdul Muthalib ketika menitipkan Muhammad kecil ke Halimah, “Siapa kamu?” “Seorang wanita dari Bani Sa’ad”, Jawab Halimah. Abdul Muthalib bertanya lagi, “Siapa namamu?”, “Halimah.” Abdul Muthalib kemudian mengatakan, “Bagus…bagus… Sa’ad (kebahagian) dan Hilm (lemah lembut) adalah dua hal yang senantiasa dibutuhkan sepanjang masa.” (Tuhfatul Maudud bi akhkamil maulud, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah,hal 124, MS)

Urgensi sebuah nama bagi pemiliknya dalam Islam

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Said bin al-Musayyib dari bapaknya bahwa kakeknya datang kepada Nabi shallalahu alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Hazn.” (artinya susah dan sulit). Maka beliau bersabda, “Kamu Sahal.” (artinya mudah) Maka dia berkata, “Aku tidak merubah nama yang diberikan bapakku kepadaku.”

Adakah akibat dari penolakan Hazn terhadap perubahan nama dari Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam ini? Ternyata ada, sebagaimana yang dikatakan oleh Said bin al-Musayyib -rahimahullah- sendiri sang cucu, “Kesulitan senantiasa menimpa kami.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani berkata dalam Fathul Bari 10/575, “Ad-Dawudi berkata, ‘Maksud Said adalah kesulitan dalam akhlak mereka.’ Selainnya berkata, ‘Said mengisyaratkan kepada kekerasan yang masih tersisa pada akhlak mereka, ahli nasab menyebutkan bahwa pada anak-anaknya terdapat keburukan akhlak yang sudah terkenal yang hampir tidak lepas dari mereka.”

Ini karena Hazn bersikukuh dengan namanya, dengan dalih menghormati pemberian orang tua, padahal dengan memberikan nama tersebut kepadanya, orang tua Hazn belum menjalankan kewajiban dirinya sebagai orang tua yang baik dalam memilihkan nama. Akibatnya, nama yang berarti sulit itu pun membawa kesulitan di kemudian hari. Yang pertama, karena namanya sudah mengandung arti keburukan, yang kedua menolak solusi baik yang ditawarkan orang yang penuh kebaikan. Kalaulah Hazn menerima nama baru yang diberikan Nabi, Sahal yang berarti mudah, bisa jadi keadaannya akan menjadi mudah sesuai dengan Sahal. Ini merupakan salah satu bukti adanya keterkaitan antara nama dengan pemiliknya.

Kita perhatikan lagi sabda Nabi shallalahu alaihi wa sallam tentang keterkaitan nama dan pemiliknya,

أَسْلَمُ سَالَمَهَا الله وَغِفَـارٌ غَفَرَ اللهُ لَهَـا وَعُصِيَّةُ عَصَتِ اللهَ وَرَسُولَهُ

“(Kabilah) Aslam, Semoga Allah memberi keselamatan kepada mereka, (kabilah) Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka dan (kabilah) Ushayyah telah durhaka kepada Allah dan rasul-Nya.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam menghubungkan nama Aslam yang berarti berserah diri, masuk ke dalam keselamatan, masuk ke dalam Islam dengan keselamatan. Pada kenyataannya keselamatan memang sesuai dengan Aslam. Sedangkan Ghifar dihubungkan oleh Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam dengan ghufran, ampunan, karena nama Ghifar memang sesuai dengan kandungannya. Lain halnya dengan Ushayyah yang berarti kedurhakaan dan kebengalan, Nabi shallalahu alaihi wa sallam menghubungkan nama ini sesuai dengan maknanya dan perkaranya memang demikian.

Nabi shallalahu alaihi wa sallam juga pernah bertafa`ul, merasa optimis dengan sebuah nama. Pada saat perjanjian Hudaibiyah orang-orang musyrikin mengutus duta mereka yang bernama Suhail bin Amru ( artinya mudah) sebagai juru runding, ketika Suhail datang, beliau bersabda, “Perkara kalian akan menjadi mudah.” (Al Muttafaq wal Mutafarraq lil Khotib Baghdadi, 1/119,MS )

Beliau memprediksi kemudahan akan diraih oleh kaum muslimin ketika yang datang kepada mereka adalah seseorang yang membawa nama yang menunjukkan makna kemudahan dan yang terjadi adalah seperti yang dinyatakan oleh Nabi shallalahu alaihi wa sallam. Pasca perjanjian itu segala urusan kaum muslimin berjalan lancar. Meskipun tampaknya isi klausul perjanjian merugikan kaum muslimin namun seiring waktu berjalan tampaklah semua perkara kaum muslimin lancar dan dimudahkan

Keterkaitan antara nama dan pemiliknya itu diperkuatlah lagi sebuah atsar dari Umar bin Khatab radhiyallahu anhu, orang yang dikatakan Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam mempunyai kualitas seorang Nabi,

Diceritakan bahwa ‘Umar bin al-Khatthab pernah bertanya kepada seorang laki-laki, “Siapa namamu?” Orang itu menjawab, “Jamrah (artinya bara).” `Umar bertanya lagi, “anak siapa?” Ia menjawab, “anak Syihab (cahaya).” `Umar bertanya, “dari marga apa?” Ia menjawab, “dari Keturunan Harqah (kebakaran).” ‘Umar bertanya, “Di mana tempat tinggalmu?” Ia menjawab, “Di Harrah an naar (panas api).” Umar bertanya lagi, ” Di sebelah mana?” Ia menjawab, “Di Dzat Lazha (Tempat api).” Kemudian Umar berkata,”Temuilah keluargamu, sesungguhnya mereka telah hangus terbakar.” Dan terjadilah seperti yang dikatakan oleh Umar. (Jami’ Ma’mar bin Rasyid,2/77,MS )

Riwayat yang serupa juga dinukil Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud dari Imam Malik.

Keluarga ini sudah melakukan kesalahan berlapis dan baru mendapatkan vonisnya ketika seorang sahabat yang sangat kuat firasatnya, Umar bin Khathab memberitahukannya. Sang ayah yang sudah terlanjur buruk namanya, bukannya menggantinya malahan mewariskan keburukan nama itu kepada anaknya. Dirinya pun berasal dari kabilah yang mempunyai nama yang buruk dan memilih tempat tinggal keluarganya di tempat yang punya nama buruk pula. Maka keburukanlah yang menimpa keluarganya.

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’ad, “Allah Subhanahu wa ta’ala dengan hikmah-Nya dalam menentukan qodho dan qodar-Nya mengilhamkan kepada jiwa-jiwa agar nama tunduk sesuai dengan apa ia dinamakan disebabkan adanya kecocokan dan keterkaitan hal tersebut dengan hikmah-Nya, yaitu antara lafadz dan maknanya seperti adanya keterkaitan antara sebab dan musabbabnya.

Abul Fathi bin Jiny berkata, “Kadangkala aku mendengar sebuah nama (kalimat) yang aku tidak tahu maknanya, maka aku kemudian mengambil makna dari lafadznya kemudian pada akhirnya aku mengetahui ternyata ia memang seperti itu atau mirip dengan itu.”

Ini berarti bahwa “Apalah arti sebuah nama.” terbantahkan dalam Islam, karena bagaimana pun nama dalam batas-batas tertentu dan dalam kadar-kadar tertentu memiliki keterkaitan dengan makna yang akan berpengaruh kepada pemiliknya, nama yang baik bisa menjadi awal yang baik, sedangkan nama yang tidak baik setidaknya dikhawatirkan bisa menjadi awal sebaliknya.

Dan bukankah hati (qolbun) disebut hati lantaran suka berbolak-balik (qollaba – yuqollibu), bukankah manusia (insan) disebut manusia karena banyak lupanya ( nasiya – yansa ), bukankah nabi disebut nabi karena ia memberitakan suatu berita besar(naba’a – yanba’u), bukankah rasul disebut rasul karena mereka diutus Allah (rosala – yarsilu) dan demikianlah adanya.

Lebih dari sekedar Identitas

Nama yang disandang oleh manusia akan tetap melekat sampai pada hari kiamat kelak dan dengan nama itulah setiap manusia akan dipanggil. Karena itulah Nabi shallalhu alaihi wa sallam mewanti-wanti agar para orang tua mencarikan nama yang baik untuk anak-anak mereka. Beliau bersabda,

“Kalian semua kelak akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan bapak-bapak kalian, karena itu baguskanlah nama-nama kalian”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban dengan perawinya yang tsiqat)

Dan Allah pun ternyata juga menyukai nama-nama tertentu untuk dirinya yang maha Agung. “Panggil Allah atau panggil Ar Rahman.” (QS Al Isra’ : 110) seperti Dia juga menyukai nama-nama tertentu seperti nama Abdullah dan Abdurrahman untuk hamba-Nya sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahihnya.

Ini menunjukkan adanya perhatian Syariat Islam yang luar biasa terhadap sebuah nama yang juga semakin menenggelamkan ungkapan “apalah arti sebuah nama.” Karena tidaklah Allah menyukai sesuatu kecuali ada kebaikan disitu dan tidaklah Dia membenci sesuatu kecuali ada hal yang sebaliknya disitu. Dan jika kita kaji lebih dalam lagi ternyata perhatian Islam terhadap nama bukan lagi pada keharusan membaikkan nama tetapi lebih spesifik dari itu, menunjukkan apa saja nama-nama yang baik dan nama-nama yang buruk itu.

“Namailah (anak-anak kalian) dengan nama para Nabi. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, sebenar-benar nama adalah Harits dan Hammam dan seburuk-buruk nama adalah Harb dan Murrah.” ( HR. Abu Daud dan Nasa’i )

Dan berbahagialah para sahabat dengan hadits Nabi itu karena fakta sejarahnya, ada sekitar 220 orang shahabat yang bernama Abdullah sebagaimana dicatat oleh Ibnu Sholah. Bahkan menurut Al Iraqi, nama Abdullah telah dipakai oleh kurang lebih 300 orang sahabat.

Sementara itu, Zubair bin Awwam radhiyallahu anhu lebih memilih nama-nama syuhada’ untuk menamai anak-anaknya dengan harapan mereka bisa mencapai derajat kesyahidan seperti pemiliknya yang awal, sedangkan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu lebih menyukai nama-nama para Nabi untuk anak-anaknya. Zubair berkata kepada Thalhah,

“Aku berharap anak-anakku menjadi para syuhada’ sedangkan kamu tidak akan bisa berharap anak-anakmu menjadi para Nabi.” Zubair mengisyaratkan bahwa yang ia lakukan lebih baik dari yang dilakukan Thalhah. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, Bab barangsiapa yang memberi nama dengan nama-nama para Nabi)

Jika para sahabat saling berbangga dengan nama-nama indah pada diri mereka dan anak-anak mereka, yang terkandung didalamnya doa dan harapan mereka, wahai para orang tua……. doa apa yang Anda panjatkan dan harapkan apa yang anda selipkan ketika memberikan nama kepada putera dan puteri Anda???

cahayasiroh.com

Wallahu muwaffiq ila aqwami thoriq

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s